DARI MATA TURUN KE HATI

May 23rd, 2009 by analis

(dipublikasikan di Koran Seputar Indonesia – 27 Jan 2009)

“Keputusan yang kita ambil berbasis pada aspek emosional, kemudian kita memback-up keputusan itu berdasarkan logika atau rasionalitas kita”

Ketika menaiki mobilnya menuju sebuah café untuk bertemu dengan calon mitra bisnisnya, Agnes memutar tape dengan lagu yang berjudul Rahasia Perempuan ‘ Sentuhlah dia tepat di hatinya, dia kan jadi milikmu selamanya. Sentuh dengan segenap cinta, biar hatinya terbang melayang…….”. Sambil mendendangkan lagu itu, Agnes membayangkan apa yang akan didiskusikan bersama oleh calon mitra bisnisnya ini. Dia akan menunjukkan rancangan konsep bisnis yang harus membuat calon mitranya ‘’terpikat’.

Meskipun ia sudah menggunakan dandanan terbaiknya ditambah dengan kecantikan yang terpancar dari wajahnya, namun hatinya dag dig dug seperti bunyi drum dalam beat lagu Rahasia Perempuan. Yang pasti hanya dia sendiri yang tahu perasaan itu, bagi orang lain pastilah Agnes kelihatan sangat bersemangat sekali, seolah ada energi yang melimpah dalam dirinya.

Akhirnya, dengan pancaran semangat seperti itu, mitra bisnis ini setuju untuk bergabung untuk bersama-sama mengembangkan proyek bisnis yang dirintis oleh Agnes.

Beberapa minggu kemudian, saya menanyakan kepada mitra tersebut, kenapa ia mau terlibat dalam proyek bisnis Agnes? Jawabnya, proyek bisnis yang diceritakan menarik, namun sebenarnya dia lebih tertarik untuk mencoba merasakan bekerja sama dengan orang yang bersemangat dan memiliki people skill yang excellent seperti Agnes. Sikap Agnes dianggap memiliki energy positif bagi orang lain yang berada disekitarnya.

Demikianlah contoh pengambilan keputusan yang didasarkan pada aspek emosional. Banyak text book ekonomi dan bisnis mengasumsikan bahwa manusia mengambil keputusan berdasarkan rasionalitas. Benarkah demikian?

Coba Anda ingat kapan Anda menggunakan aspek rasionalitas lebih besar daripada emosional. Bagaimana ketika Anda memilih teman atau sahabat. Mana yang lebih Anda cintai, anak Anda atau anak orang lain? Bagaimana Anda memilih mobil? Apa warna kesukaan Anda? Bukankah jawaban tersebut menunjukkan bahwa aspek emosional kita sangat dominan?

Saya yakin hampir semua keputusan yang kita ambil berbasis pada aspek emosional, kemudian kita memback up keputusan itu berdasarkan logika atau rasionalitas kita. Misalnya Anda ingin membeli rumah, sebenarnya proses berpikirnya mulai dari mata turun ke hati. Dari hati naik ke otak. Dengan otak, kita membuat alasan-alasan yang cukup supaya kita lebih confidence dalam mengambil keputusan. Apakah Anda membeli rumah dengan mengukur expected financial return? Jika iya, apa dasar Anda dalam mengambil keputusan bahwa rumah itu akan lebih menguntungkan secara financial daripada rumah yang lain? Hampir bisa dipastikan semua itu melibatkan emosi. Tepatnya, emosi yang di backup oleh rasionalitas.

Apakah Anda pernah mendengar ada pepatah berkata ‘dari mata naik ke otak’? Pasti tidak, yang ada hanya ‘dari mata turun ke hati’. Percaya atau tidak, banyak hal dalam kehidupan kita sehari-hari yang bisa membuktikannya.

Dalam kondisi normal, mana yang Anda pilih? Minuman merk AQUA atau AKUA. COCA COLA atau KOKA KOLA? Bagaimana dengan merek elektronik, SONY atau SONI? Kita semua pasti tahu jawabannya. Itulah kenapa nama perusahaan yang sudah ‘menyentuh hati’ banyak orang, nilainya menjadi sangat berharga. Mereka telah memiliki banyak orang yang ‘jatuh hati’.

Jadi….. mulailah dari sekarang membuat simpati kepada banyak orang, ciptakan brand image positif di mata banyak orang, dan mereka pasti akan mencintai Anda.

Jika Anda adalah memiliki kelebihan dibandingkan orang lain, jangan terlalu sombong kepada orang lain. Anda akan lebih dihargai jika Anda menyentuh hati mereka dengan kepedulian Anda. Seperti kata Dale Carnigie, orang tidak perduli dengan apa yang kita miliki, namun orang sangat peduli dengan apa yang bisa mereka dapatkan.

Raihlah simpati, sentuhlah hati orang di sekitar, dan gapai kesuksesan Anda.

Dedhy Sulistiawan