HIDUP ADALAH BELAJAR

May 23rd, 2009 by analis

Pada umumnya masyarakat mengidentikkan kata ‘belajar’ dengan sekolah. Hal itu wajar, mengingat sejak kecil kita bersekolah mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA. Kemudian beberapa dari kita melanjutkan sekolah di jenjang D3, S-1, S-2 bahkan S-3, dan mungkin beberapa orang akan bersekolah sampai jenjang S-4 jika program tersebut ditawarkan. Sehubungan dengan sekolah, beberapa tahun terakhir ini bahkan menjamur banyak playgroup yang menawarkan pendidikan pra-TK, sehingga anak ‘dipaksa’ bersekolah sejak usia yang yang sangat dini. Fenomena ini menunjukkan bahwa hasrat belajar (atau bisa juga hasrat orang tua pelajar) yang sangatlah besar.

Namun benarkah belajar hanya di sekolah saja? Anda pasti sudah tahu bahwa jawabannya adalah TIDAK. Menurut saya, sekolah sangatlah penting, namun banyak orang merasa mereka akan berhenti belajar setelah lulus sekolah/kuliah. Bukankah setiap saat, sejak lahir sampai meninggal, manusia akan terus belajar? Bukankah belajar itu bisa juga di luar kelas/sekolah?

Coba kita lihat ketika bayi baru lahir, dia belajar mengenal kehidupan baru di luar rahim sang ibu. Kemudian dia belajar melakukan aktivitas fisik, termasuk duduk, bicara, berjalan, berlari dan seterusnya. Anda bisa lihat ketika dia ‘harus’ belajar untuk berjalan. Dengan penuh semangat dan keyakinan si bayi belajar dari jatuh bangunnya dia dan akhirnya berhasil. Dan, semua dari kita dulunya adalah seorang bayi.

Pada dasarnya, belajar tidak mengenal tempat dan waktu. Belajar tidak harus dari buku, bisa dari internet atau bisa juga dari pengalaman kita, teman kita, orang tua kita, dan siapapun juga. Saya selalu percaya bahwa jauh lebih banyak yang kita tidak tahu dari pada yang kita tahu. Karena itu, kita akan selalu mendapatkan tambahan informasi setiap harinya, jika kita mau membuka diri untuk belajar.

Hambatan terbesar dari belajar adalah bukan ketidakpintaran kita, melainkan ego dan kemalasan. Kedua hal tersebut memiliki peran yang sangat dominan dalam proses belajar kita sebagai manusia. Pernyataan ini membuat saya ingat atas apa yang pernah disampaikan salah satu guru saya, knowledge is free, but wisdom is expensive. Jaman sekarang, mudah bagi kita mempelajari semua jenis pengetahuan, namun untuk mendapatkan sikap yang bijak membutuhkan pengorbanan yang luar biasa. Sikap yang bijak bisa ditunjukkan dengan kerendahan hati, menghargai pendapat orang lain, jujur, tidak egois, dan sikap positif lainnya. Hal itulah yang membuat kita lebih mudah mempelajari sesuatu yang baru dan hal itu jugalah yang membedakan antara manusia dan mesin.

Bercerita tentang belajar, saya yakin Anda kenal orang bernama Newton. Ia menemukan prinsip gravitasi ketika dia kejatuhan apel. Rasa ingin tahunya membuat dia ‘harus’ mempelajari kenapa apel dari pohon bisa jatuh. Ketekunannyalah yang membuat namanya abadi hingga saat ini. Tidak bisa dibayangkan, bagaimana perkembangan ilmu fisika tanpa ‘teori apel jatuh’.

Di waktu yang lain, Copernicus menyangkal pendapat Ptelomeus yang menyatakan bahwa pusat tata surya adalah bumi dan benda angkasa mengelilinginya. Hasilnya, banyak ilmuwan pada waktu itu mencemoohkan temuan baru tersebut. Copernicus berpendapat bahwa matahari adalah pusat tata surya dan bumi mengelilinginya. Konsep tersebut dicela dan dianggap cerita ngawur, karena jelas menyalahkan pendahulunya dan ilmuwan terkemuka pada waktu itu.

Bagaimana dengan kita? Setiap hari kita pasti mempelajari sesuatu yang baru, entah dari orang yang lebih muda atau jabatannya lebih rendah dari kita atau mungkin adik atau anak kita. Maukah kita merendahkan hati untuk mendengarkan? Banyak sekali pengetahuan baru yang akan sangat berguna bagi kita, namun karena jebakan rutinitas dan perangkap ego membuat kita memiliki ‘pasukan berani mati’ yang menghalangi masuknya informasi dan pengetahuan baru ke dalam otak kita.

Untuk mengakhiri, sang bijak berpesan kepada kita semua bahwa belajar itu bukan hanya untuk menambah pengetahuan kita, namun juga memperbaiki sikap dan kebijaksanaan kita.

Dipublikasikan di Harian Seputar Indonesia – Dedhy Sulistiawan

DARI MATA TURUN KE HATI

May 23rd, 2009 by analis

(dipublikasikan di Koran Seputar Indonesia – 27 Jan 2009)

“Keputusan yang kita ambil berbasis pada aspek emosional, kemudian kita memback-up keputusan itu berdasarkan logika atau rasionalitas kita”

Ketika menaiki mobilnya menuju sebuah café untuk bertemu dengan calon mitra bisnisnya, Agnes memutar tape dengan lagu yang berjudul Rahasia Perempuan ‘ Sentuhlah dia tepat di hatinya, dia kan jadi milikmu selamanya. Sentuh dengan segenap cinta, biar hatinya terbang melayang…….”. Sambil mendendangkan lagu itu, Agnes membayangkan apa yang akan didiskusikan bersama oleh calon mitra bisnisnya ini. Dia akan menunjukkan rancangan konsep bisnis yang harus membuat calon mitranya ‘’terpikat’.

Meskipun ia sudah menggunakan dandanan terbaiknya ditambah dengan kecantikan yang terpancar dari wajahnya, namun hatinya dag dig dug seperti bunyi drum dalam beat lagu Rahasia Perempuan. Yang pasti hanya dia sendiri yang tahu perasaan itu, bagi orang lain pastilah Agnes kelihatan sangat bersemangat sekali, seolah ada energi yang melimpah dalam dirinya.

Akhirnya, dengan pancaran semangat seperti itu, mitra bisnis ini setuju untuk bergabung untuk bersama-sama mengembangkan proyek bisnis yang dirintis oleh Agnes.

Beberapa minggu kemudian, saya menanyakan kepada mitra tersebut, kenapa ia mau terlibat dalam proyek bisnis Agnes? Jawabnya, proyek bisnis yang diceritakan menarik, namun sebenarnya dia lebih tertarik untuk mencoba merasakan bekerja sama dengan orang yang bersemangat dan memiliki people skill yang excellent seperti Agnes. Sikap Agnes dianggap memiliki energy positif bagi orang lain yang berada disekitarnya.

Demikianlah contoh pengambilan keputusan yang didasarkan pada aspek emosional. Banyak text book ekonomi dan bisnis mengasumsikan bahwa manusia mengambil keputusan berdasarkan rasionalitas. Benarkah demikian?

Coba Anda ingat kapan Anda menggunakan aspek rasionalitas lebih besar daripada emosional. Bagaimana ketika Anda memilih teman atau sahabat. Mana yang lebih Anda cintai, anak Anda atau anak orang lain? Bagaimana Anda memilih mobil? Apa warna kesukaan Anda? Bukankah jawaban tersebut menunjukkan bahwa aspek emosional kita sangat dominan?

Saya yakin hampir semua keputusan yang kita ambil berbasis pada aspek emosional, kemudian kita memback up keputusan itu berdasarkan logika atau rasionalitas kita. Misalnya Anda ingin membeli rumah, sebenarnya proses berpikirnya mulai dari mata turun ke hati. Dari hati naik ke otak. Dengan otak, kita membuat alasan-alasan yang cukup supaya kita lebih confidence dalam mengambil keputusan. Apakah Anda membeli rumah dengan mengukur expected financial return? Jika iya, apa dasar Anda dalam mengambil keputusan bahwa rumah itu akan lebih menguntungkan secara financial daripada rumah yang lain? Hampir bisa dipastikan semua itu melibatkan emosi. Tepatnya, emosi yang di backup oleh rasionalitas.

Apakah Anda pernah mendengar ada pepatah berkata ‘dari mata naik ke otak’? Pasti tidak, yang ada hanya ‘dari mata turun ke hati’. Percaya atau tidak, banyak hal dalam kehidupan kita sehari-hari yang bisa membuktikannya.

Dalam kondisi normal, mana yang Anda pilih? Minuman merk AQUA atau AKUA. COCA COLA atau KOKA KOLA? Bagaimana dengan merek elektronik, SONY atau SONI? Kita semua pasti tahu jawabannya. Itulah kenapa nama perusahaan yang sudah ‘menyentuh hati’ banyak orang, nilainya menjadi sangat berharga. Mereka telah memiliki banyak orang yang ‘jatuh hati’.

Jadi….. mulailah dari sekarang membuat simpati kepada banyak orang, ciptakan brand image positif di mata banyak orang, dan mereka pasti akan mencintai Anda.

Jika Anda adalah memiliki kelebihan dibandingkan orang lain, jangan terlalu sombong kepada orang lain. Anda akan lebih dihargai jika Anda menyentuh hati mereka dengan kepedulian Anda. Seperti kata Dale Carnigie, orang tidak perduli dengan apa yang kita miliki, namun orang sangat peduli dengan apa yang bisa mereka dapatkan.

Raihlah simpati, sentuhlah hati orang di sekitar, dan gapai kesuksesan Anda.

Dedhy Sulistiawan


WAKTU YANG SANGAT BERHARGA

May 23rd, 2009 by analis

(dipublikasikan di SINDO 2 Maret 2009 – Dedhy Sulistiawan)

Suatu ketika ada seorang bangsawan membuat lomba menghabiskan uang. Peserta yang menghabiskan uang paling cepat adalah pemenangnya. Setiap peserta diberi uang Rp 100.000.000 dan harus habis dibelanjakan pada hari itu juga. Menariknya, barang hasil pembelanjaan akan menjadi milik peserta. Jika uang peserta belum habis, maka uang itu akan diminta kembali. Ketentuan lomba ini jelaslah sangat menarik, karena peserta lomba akan menjadi orang yang sangat royal.

Peserta pertama ditempatkan di kota besar, peserta kedua di kota kecil, dan selanjutnya peserta ketiga ditempatkan di sebuah desa yang jauh dari kota. Hasil perlombaannya, semuanya berhasil menggunakan uangnya sampai habis. Mereka berhasil memanfaatkannya dengan baik.

Bagaimana dengan Anda? Jika Anda berada dalam keadaan seperti itu, apakah yang Anda lakukan? Pastilah Anda akan menggunakan uang tersebut secara efektif, dan berusaha jangan sampai uang itu menjadi hangus dan harusdikembalikan.

Selanjutnya, bagaimana dengan waktu yang kita miliki? Setiap orang di dunia ini memiliki waktu yang sama, yaitu 24 jam atau 1440 menit dalam satu harinya. Apa saja yang dilakukan oleh setiap orang dalam satu hari? Sama seperti cerita di atas, setiap manusia memiliki waktu 24 jam dan dia harus menghabiskannya adalam satu hari. Semua orang pasti bisa menghabiskannya, karena keesokan harinya waktu itu sudah ‘hangus’, dan Anda harus memulai hari baru, begitu dan seterusnya.

Apakah kita ingin menginvestasikan waktu Anda sehingga di masa mendatang kita lebih banyak memiliki nilai tambah? Atau apakah kita hanya ingin menghabiskan waktu Anda saat ini untuk bersenang-senang atau hanya tidur saja? Semua itu pilihan Anda. Namun yang pasti, jika kita hanya tidur, maka kita hanya akan menjadi tua dan beruban, sedangkan jika kita menginvestasikan waktu untuk hal yang positif, Anda akan menjadi manusia yang lebih baik, baik secara finansial, kebijaksanaan dan pengetahuan. Semakin Anda menjadi lebih baik, makin banyak orang yang akan mendapatkan manfaat dari keberadaan Anda, setidaknya setiap dari kita ingin menjadi teladan dan inspirasi bagi orang-orang di sekitar kita, terutama anak-anak kita.

Orang-orang hebat dari Donald Trump, Warren Buffet, Bill Gates, Mother Teresa, Henry Ford, Soekarno, sampai dengan Gus Dur mereka telah menginvestasikan waktu mereka dengan sangat berharga, bukan hanya bagi diri mereka sendiri, namun juga bagi orang lain. Mereka sama dengan orang rata-rata yang hanya memiliki waktu 24 jam, namun mereka menjadi berbeda dengan orang rata-rata karena mereka tahu bagaimana memanfaatkan waktu dengan baik. Apakah kita semua akan mendengar nama besar mereka, jika mereka hanya menghabiskan waktu untuk tidur dan tidak melakukan apa-apa? Saya yakin tidak.

Benyamin Franklin pernah menyatakan waktu adalah inti dari kehidupan. Jika Anda mencintai kehidupan Anda, maka gunakan waktumu dengan baik. Begitu pula dengan Henry Ford. Ia pernah berkata, ‘Menurut pengamatan saya, kebanyakan orang maju karena mereka menggunakan waktu yang justru disia-siakan oleh orang lain.’ Pertanyaan utamanya adalah, apakah kita sudah benar-benar memanfaatkan waktu yang sangat berharga bagi kita dan organisasi kita?

Apapun jawabannya, guru bijak pastilah akan menyarankan supaya kita mulai dari sekarang menginvestasikan waktu kita, dimulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Gunakan waktu dengan baik, pastilah kita akan memiliki kebiasaan menjadi orang hebat dan sukses.

Untuk jadi sukses, hebat atau menjadi pahlawan, tidak perlu selalu harus dikenal banyak orang. Bukan masalah kita akan menjadi orang seperti Bill Gates atau Bung Karno atau Mother Teresa, yang penting Anda bisa memulai menjadi pahlawan dan orang sukses bagi anak Anda, orang tua Anda ataupun lingkungan Anda.

Sekali lagi, bukan masalah Anda berada dimana, masalahnya adalah bagaimana Anda menggunakan waktu untuk mengisi kehidupan Anda. Percayalah, hanya waktu yang sangat berharga ini yang bisa membuktikan bahwa Anda layak dapat BINTANG!!!

“Investasikan waktu Anda sebelum menginvestasikan uang Anda”

Technical Rebound atau Falling Knife?

May 23rd, 2009 by analis

“Kekuatan beli inilah yang melawan “gravitasi” di bursa saham, sehingga saham bisa “beterbangan” kembali.”

Suatu hari seorang anak bernama Fidel belajar tentang hukum gravitasi. Apa yang ia dapatkan? Jika suatu benda dilepaskan dari tangan maka benda tersebut akan jatuh ke tanah. Karena hukum alam menyatakan benda akan tertarik oleh daya gravitasi.
Di hari yang lain, ia melihat teman-temannya bermain bola di lapangan. Apa yang ia lihat? Ternyata jika suatu bola dilempar ke atas, maka bola itu akan memantul ke bawah. Begitu pula sebaliknya. Semakin kuat kita memantulkan bola ke bawah (atau ke atas) maka semakin kuat pula bola itu akan berbalik arah. Kekuatan pembalikannya itu tergantung kekuatan lemparan bola. Jadi, selama benda tidak mendapatkan kekuatan untuk naik, maka benda akan jatuh.

Apa hubungannya dengan bursa saham?
Technical rebound terjadi ketika harga saham kembali naik setelah turun. Semakin kencang penurunannya (harga turun drastis) semakin besar potensinya untuk kembali naik. Kenapa bisa terjadi? Karena penurunan harga saham hanyalah akibat dari kepanikan pasar (panic selling). Dengan kata lain, tidak ada kejadian yang akan mempengaruhi aspek fundamental yang mempengaruhi kinerja perusahaan. Jadi rekomendasinya, beli saat harga turun drastis karena panic selling. Kekuatan beli inilah yang melawan “gravitasi” di bursa saham, sehingga saham bisa “beterbangan” kembali.

Namun apa yang terjadi jika harga saham terus merosot. Istilah inilah yang bisa dinamakan sebagai falling knife. Coba bayangkan apa yang akan terjadi jika sebuah pisau jatuh dan Anda berusaha untuk menangkapnya. Tangan Anda akan terluka atau berdarah karena terkena goresan pisau, dan pisau tetap jatuh karena Anda tidak berhasil menangkapnya. Begitu pulalah yang terjadi di bursa saham. Harga saham yang jatuh karena faktor fundamental perusahaan akan memiliki trend yang bearish. Ibarat rumah atau lingkungan perumahan yang sering terkena genangan air karena banjir atau air laut pasang, nilai fundamentalnya akan turun. Jika kita ingin membeli dengan harga beli yang murah, nilai jualnya tidak akan lebih tinggi (cenderung turun).

Jadi apa kesimpulannya jika harga saham turun?
Bagi Anda yang memiliki horizon investasi jangka panjang, analisis fundamental akan bisa membantu Anda untuk menentukan apakah ini hanyalah panic selling atau bukan. Cobalah menggunakan analisis PER atau mendiskontokan aliran kas perusahaan di masa mendatang. Indikator perubahan tingkat bunga sangat menentukan metode tersebut. Jadi jika bunga masih rendah, biasanya harga saham masih memiliki nilai wajar yang tinggi. Menurut Benjamin Graham, justru saat resesi (penurunan harga saham yang signifikan) adalah saat yang paling baik membeli saham perusahaan bagus dengan harga murah. Bagaimana cara mengetahui apakah harga saham murah? Lakukan analisis fundamental dan investasikan dana Anda yang benar-benar menganggur. Coba Anda ingat kembali harga saham ketika krisis monitor (tahun 1997an), misalnya harga saham ASII yang sempat menyentuh nilai Rp 250/lembar (saat ini harganya hampir mencapai Rp 30.000/saham). Coba lihat lagi saham INCO, atau TLKM dan seterusnya.

Bagi Anda yang melakukan perdagangan saham (investasi jangka pendek), analisis teknikal akan bisa membantu Anda untuk menentukan apakah akan terjadi technical rebound atau falling knife. Apakah terjadi oversold atau sinyal beli transaksi dari grafik yang ada. Yang menarik dari analisis ini adalah usahanya untuk mempelajari perilaku pasar yang ditunjukkan dari pergerakan harga saham. Dengan asumsi bahwa history repeat itself (sejarah selalu berulang), maka kejadian yang sama dianalogikan akan terjadi di masa kini. Masihkah Anda ingat kasus bom Bali, BEJ, atau WTC? Beberapa referensi investasi juga mendukung bahwa saat terjadi tragedy akan terjadi technical rebound. Harga turun drastis untuk beberapa waktu, namun akan naik lebih tinggi dari pada sebelum tragedi.
Jadi, lakukanlah kedua analisis ini dengan baik. Perusahaan yang baik belum tentu harga sahamnya akan menguntungkan, karena saat (timing) Anda membeli juga akan membuat perbedaan terhadap return yang akan dihasilkan.

Dalam artikel ini penulis tidak berusaha membuat saran yang pragmatis apakah besok harga saham akan naik atau turun. Penulis hanya bisa menyampaikan, lihat grafik harga saham Anda, apakah grafik harga saham tersebut sudah menembus grafik moving averagenya? Jika sudah silakan beli karena akan terjadi technical rebound, jika belum kemungkinan akan terjadi fenomena falling knife.

Akhir kata, penulis adalah peneliti dan penulis buku analisis teknikal, jadi rekomendasi yang diberikan akan mengarah ke strategi analisis teknikal. Namun sayangnya hal itu tidak bisa diberikan oleh penulis, karena penulis tidak tahu kapan tulisan ini akan dipublikasikan.

Jadi mari kita buktikan apakah terjadi falling knife atau technical rebound. Selamat mengambil keputusan.
Investasikan waktu Anda sebelum menginvestasikan uang Anda.

Dedhy Sulistiawani
dipublikasikan di harian KONTAN - Nov 2008